Laksda Maeda, Oknum AL yang Melanggar Perintah
Peristiwa di rumah Laksamana Muda Tadashi Maeda menimbulkan persepsi menyimpang keliru, gara-gara tulisan sejarawan Belanda, Dr. de Graaf, yang menginterpretasikan peristiwa itu sebagai menunjukkan Republik Indonesia adalah buatan Jepang. Pada saat de Graaf menulis karangannya sumbernya terbatas, tetapi setelah 50 Tahun Indonesia Merdeka, sejarawan Belanda, Lambert Giebels, tetap memakai data “miring” itu, yang sesuai dengan mindset-nya sebagai overheerser (penguasa).
Kesalahan persepsi itu juga disebabkan oleh tulisan Tadashi Maeda dan Shigetada Nishijima yang pada waktu diinterogasi di bawah sumpah oleh pejabat Belanda menyatakan tidak punya peran apa-apa tetapi kemudian melebih-lebihkannya, seolah-olah mereka ikut merumuskan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Para penulis kita menolak dengan keras pendapat itu, tetapi argumen yang dikemukakan mereka tidak diperkuat oleh bukti-bukti.
Rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) semula direncanakan di Hotel Des Indes pada jam 10 pagi, tetapi tidak dapat dilaksanakan karena Bung Karno dan Bung Hatta “diamankan” ke Rengasdengklok oleh para pemuda. Waktu itu ada peraturan pemerintah militer yang melarang penggunaan hotel tersebut untuk rapat setelah jam 10 malam. Bung Karno dan Bung Hatta pulang dari Rengasdengklok sekitar jam 10 malam. Karena itu Mr. Achmad Subardjo menyarankan agar rapat PPKI dialihkan ke rumah Laksamana Maeda yang bersimpati dengan perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Usul itu diterima, yang oleh Bung Karno dan Bung Hatta pertemuan diperluas menjadi rapat para protagonis (aktifis) yang akan menyusun naskah proklamasi kemerdekaan. Maeda memang bersimpati pada perjuangan bangsa Indonesia, tetapi ia juga berkepentingan agar tidak jatuh korban di kalangan Jepang. Sebab itu Maeda berusaha untuk mempertemukan Soekarno-Hatta dengan Gunseikan, Mayjen Yamamoto yang ternyata tidak mau menerima kedatangan kedua Indonesia itu. Mereka ditemui oleh wakilnya, Mayjen Nishimura.
Melanggar Perintah
Menurut “testimoni” Nishimura, dia tidak mengira bahwa akan ada kegiatan yang melawan kebijakan pemerintah
Jepang di rumah Maeda karena dalam perdebatan dengan para pemimpin Indonesia yang ingin segera memproklamasikan kemerdekaan, Maeda selalu menyatakan agar Sukarno-Hatta tidak melakukan kegiatan yang akan menimbulkan keributan.
Nishimura mengatakan bahwa Maeda membujuk Soekarno-Hatta dengan kata-kata manis yang keluar dari hati nuraninya yang paling dalam; dia meminta agar para pemimpin Indonesia berhati-hati dalam mengambil keputusan dan mempertimbangkan pendapat dari penguasa Jepang. Setelah para pemimpin Indonesia itu meninggalkan rumahnya, Nishimura mengira bahwa Maeda akan tetap membujuknya, dia tidak mengira bahwa Maeda akan memfasilitasi Soekarno-Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Nishimura berulang kali menolak permintaan Soekarno-Hatta yang bermaksud menyelenggarakan rapat PPKI pada tanggal 17 Agustus 1945, sehari lebih cepat dari tanggal yang telah disetujui oleh Marsekal Terauchi di Saigon. Dia tetap melarang kegiatan PPKI dalam bentuk apapun karena pada pagi harinya dia telah menerima perintah dari Tokio agar memelihara status quo setelah Jepang menyerah kepada Sekutu.
Dia mengatakan malam itu status pemerintah Militer Jepang sudah menjadi alat Sekutu, tidak lagi mampu membantu bangsa Indonesia. Tetapi, ketika Soekarno-Hatta meninggalkan rumahnya dengan ceria; dia mulai curiga dan memerintahkan salah seorang stafnya, Myoshi, untuk menguntit. Dia juga memberi perintah kepada Miyano, Kepala Polisi, untuk memperketat penjagaan di Stasiun/Pemancar Radio dan percetakan-percetakan.
Tetapi, menurut kesaksian Nishijima, di kalangan Kaigun (AL), kehadiran Myoshi justru menimbulkan anggapan pertemuan di rumah Maeda diadakan dengan sepengetahuan Rikugun (AD). Maeda memang melanggar perintah untuk menjaga status quo, tetapi kedudukannya sebagai perwira tinggi Kaigun tidak memungkinkan Rikugun memenjarakannya.
Maeda bukanlah orang yang mempunyai wewenang untuk menentukan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Ia juga cuma oknum yang membantu perjuangan bangsa Indonesia.
Di Kamar Tidur
Maeda sendiri memberikan kesaksian sebagai berikut:
Soekarno-Hatta datang ke rumahnya jam 11 malam. Setelah berbasa-basi sebentar mengenai Rengasdengklok, Maeda segera menelepon Gunseikan (Kepala Pemerintahan Militer) Mayjen Yamamoto. Maeda menyampaikan bahwa ada persoalan sangat gawat yang dihadapi oleh Soekarno-Hatta, tetapi Yamamoto tetap enggan menerima tamu pada tengah malam.
Kepada Maeda Yamamoto menyarankan agar Soekarno-Hatta menemui wakilnya, Mayjen Nishimura dan segera menutup teleponnya tanpa menunggu jawaban. Meskipun mendapat tanggapan yang demikian kaku, Maeda menelepon Nishimura yang menyatakan mau menerima Soekarno-Hatta.
Dia beserta Soekarno-Hatta sampai di rumah Nishimura sekitar jam 1 pagi tanggal 17 Agustus 1945. Ternyata dia telah siap dengan didampingi stafnya yang terdiri dari Kapten Nakamura, Y.Nakatani, S.Myoshi, Hidemasa Yamamoto (wartawan ”Asahi”) dan S. Saito (kemudian jadi Duta Besar Jepang di Indonesia).
Di meja banyak sake (minuman keras khas Jepang) yang menyebabkan beberapa stafnya mulai mabuk, termasuk Myoshi. Di rumah Nishimura itu Bung Karno menyatakan bahwa pada pertemuan di Saigon pada tanggal 12 Agustus 1945, Marsekal Terauchi telah menyatakan penentuan waktu kemerdekaan Indonesia diserahkan kepada pimpinan PPKI.
Terauchi juga menyatakan rapat PPKI bisa diselenggarakan tanggal 18 Agustus 1945. Dengan alasan itu Bung Karno meminta izin Gunseikan untuk mempercepat rapat PPKI sehari saja, tetapi Nishimura tetap menolak
Setelah berargumentasi selama kurang lebih dua jam, Nishimura tetap pada pendiriannya bahwa pemerintah militer Jepang tidak dapat mengizinkan untuk mengadakan kegiatan menyelenggarakan rapat PPKI karena Jepang sejak tanggal 16 siang sudah tidak lagi berkuasa, Jepang sudah menjadi alat Sekutu yang ditugasi untuk menjaga status quo sampai kedatangan Sekutu.
Menurut kesaksian Maeda dia sudah masuk ke kamar tidur ketika naskah proklamasi kemerdekaan dirumuskan dan dibahas. Dia terbangun karena suara ribut dan turun dari kamarnya pada jam 5 pagi ketika perundingan telah selesai.
Nishijima mengaku ikut merumuskan naskah proklamasi bersama Yoshizumi, tetapi tidak ada seorangpun tokoh Indonesia, baik yang merumuskan, yakni Soekarno-Hatta-Soebardjo, maupun yang menyaksikan, yakni Sukarni, B.M. Diah, Sudiro (Mbah) dan Sayuti Melik yang menyatakan bahwa ada orang Jepang yang ikut merumuskan naskah proklamasi kemerdekaan.
Nishijima hanyalah pegawai biasa yang menurut riwayat hidup yang ditanda tanganinya di bawah sumpah, tidak tamat sekolah lanjutan atas. Jabatan dan kedudukan kepegawaiannya jauh di bawah Myoshi. Myoshi tidak diajak berunding apalagi Nishijima. Menurut pengakuan Nishijima dia ikut mengubah istilah ”merebut kekuasaan” menjadi ”pemindahan kekuasaan” dengan penjelasannya dengan istilah Jepang, suatu hal yang tidak mungkin
Laksamana Maeda sendiri mengundurkan diri pada waktu para pemimpin Indonesia mulai membahas naskah proklamasi. Dia merasa bahwa soal itu bukan urusannya. Miyoshi duduk tidak jauh dari meja perundingan dalam keadaan setengah mabuk, dia menyatakan bahwa tidak ikut perundingan itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar