Sejarah perjuangan Indonesia menuju kemerdekaan mengalami banyak kenangan. Dari perang gerilya hingga perumusan dan pembacaan naskah proklamasi, semuanya meninggalkan saksi-saksi bisu yang sampai sekarang masih bisa dinikmati. Perumusan Naskah Proklamasi Menegok sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, ada beberapa peristiwa penting yang menasional dan terjadi di beberapa bagian kota di Indonesia. Jalur napak tilas kali ini melangkah mundur, ke 61 tahun yang lalu. Saat itu, 16 Agustus 1945, pukul 04.30 WIB. Sebuah peristiwa terjadi di rumah kepala Negara RI. Orang nomor satu di Indonesia beserta wakilnya, telah diculik oleh sekelompok pemuda dokuritsu zunbi kosasai atau Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang dibentuk Jepang beberapa waktu sebelumnya. Soekarno kemudian dibawa ke sebuah rumah di daerah Rengasdengklok. Di sana terjadi proses kompromi tentang rencana pernyataan kemerdekaan. Banyak di antara para pemuda yang tidak menyetujui hal itu, mengingat PPKI adalah sebuah lembaga yang didirikan oleh Jepang. Dari proses perundingan di Rengasdengklok, akhirnya diperoleh sebuah kesepakatan penting. Presiden Soekarno dan wakilnya, Muhammad Hatta kemudian diboyong ke Jakarta. Tempat peristiwa bersejarah ini sampai sekarang masih berada pada lokasi yang sama. Bentuk bangunannya pun tetap sama seperti bentuk ketika pertama kali didirikan sekitar tahun 1920 dengan rancang bangun arsitektur bergaya Eropa. Beberapa isi ruangan dipertahankan dalam keadaan yang sama dengan kondisinya waktu dulu. Hampir sama persis seperti ketika proses perumusan naskah proklamasi disusun di sana, 61 tahun yang lalu. Kursi dan meja yang sama, serta ruangan-ruangan dengan jendela dan pintu dalam kondisi yang tak diubah bentuk. Ada beberapa dokumen penting yang diletakkan di dalam lemari kaca, misalnya pemutar piringan hitam kuno, kaset VHS yang berisi rekaman acara pembacaan naskah proklamasi kemerdekaan RI tahun 1945, dua lembar pecahan uang kuno, replika naskah proklamasi tulisan tangan, dan berbagai catatan sejarah proklamasi kemerdekaan RI di berbagai kota. Museum ini dibuka untuk umum setiap harinya, kecuali hari Senin dan Hari Besar. Hari Selasa s/d Minggu, museum dibuka sejak pukul 08.30 s/d 14.30 WIB dengan harga karcis masuk yang sangat murah. Hanya dengan biaya masuk Rp750,- untuk dewasa perorangan, dan Rp250,- untuk anak-anak. Bahkan untuk pengunjung rombongan, harga tiket masuknya lebih murah. Hanya berkisar Rp100,- s/d Rp250,- per orang. Gedung museum dan isinya yang terawat baik, kini banyak memberikan nilai-nilai edukatif, khususnya tentang sejarah Proklamasi Kemerdekaan RI. Pengunjung yang datang, umumnya adalah para murid, pelajar, siswa, para mahasiswa serta turis-turis mancanegara. Museum Perumusan Naskah Proklamasi juga sering menerima tamu dari Kedutaan Jepang. Menurut Yuwono, salah satu pegawai Tata Usaha di Museum Perumusan Naskah Proklamasi Kemerdekaan RI, pihaknya bahkan sering menerima tamu dalam jumlah yang banyak. Satu rombongan bisa mencapai 500 orang. Selain menerima kunjungan para tamu, di tempat ini juga sering dilakukan diskusi-diskusi yang berkaitan dengan sejarah Proklamasi Kemerdekaan RI. Bahkan pihak pengelolanya sekarang Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala di bawah naungan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata telah membuat program acara yang diadakan setiap tahun, dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan RI. Berdasarkan penuturan Yuwono, Biasanya acara spesial ini digelar dengan tema napak tilas proklamasi kemerdekaan RI. Acara puncaknya dilaksanakan pada tanggal 16 Agustus seiap tahun. Menurut rencana, akan ada karnaval dengan rute Jl. Imam Bonjol No.1 s/d ke Gedung Pola (Gedung Perintis Kemerdekaan di Jl. Proklamasi). Selain dihadiri oleh beberapa orang penting dari jajaran Departemen Pariwisata dan Kebudayaan, acara ini juga akan diramaikan dengan karnaval menarik. Beberapa pihak yang pernah terlibat adalah klub motor-motor kuno, mobil-mobil kuno, kelompok sepeda-sepeda antik, dan kelompok drum band dari SMA YAPENAS Jakarta. Sejarah Dimulai dari Pegangsaan Timur Hingga pada tahun 1961, Presiden Soekarno meresmikan pembuatan Tugu Petir di lokasi yang sama. Tugu berbentuk silinder mencapai tinggi yang lebih dari 8 meter dengan simbol petir yang ada di puncaknya itu, kini berdiri di depan sebuah gambar Soekarno dalam siluet hitam putih yang menjulang tinggi menjadi latar belakangnya. Kemudian, pelataran sebelah baratnya, dibuatkan dua patung Sekarno-Hatta yang berdiri berdampingan. Mirip dengan dokumentasi foto ketika naskah proklamasi pertama kali dibacakan. Di tengah-tengah dua patung proklamator setinggi 3 meter-an ini, ada naskah proklamasi yang dicetak besar-besar di atas lempengan batu marmer hitam, dengan susunan dan bentuk tulisan mirip dengan naskah ketikan aslinya. Semua ini, disebut sebagai Tugu Proklamasi, termasuk Tugu Petir yang ada di sebelah kiri patung proklamator. Tugu Proklamasi yang kini berdiri di tanah lapang kompleks Taman Proklamasi di Jl. Proklamasi (dahulunya disebut Jl. Pegangsaan Timur No. 56), Jakarta Pusat menjadi simbol. Penanda bahwa di tempat patung itu berdiri, di sana pernah terjadi peristiwa bernilai historis panjang hingga kini. Pada perkembangannya sekarang, lokasi ini pun menjadi tempat pilihan bagi berkumpulnya para demonstran untuk menyuarakan pendapat-pendapatnya. Lain halnya ketika sore menjelang. Pada hari-hari yang biasa, para penduduk yang tinggal tak jauh dari lingkungan taman ini kerap berkunjung ke Tugu Proklamasi untuk berbagai aktivitas. Tempat ini menjadi tempat favorit anak-anak bermain, karena arealnya yang luas dan bersih. Bahkan terkadang dijadikan arena berolahraga, tempat berkumpul dan bertemu, atau hanya untuk duduk-duduk saja menghabiskan sore hingga senja datang. Karena banyaknya pengunjung setiap sore, khususnya setiap Sabtu dan Minggu, para pedagang pun tak mau melewatkan kesempatan untuk menangguk keuntungan. Ada pedagang bakso, makanan-makanan gorengan, bahkan penjual balon. Tugu Proklamasi juga menjadi tempat yang spesial untuk acara peringatan Hari Kemerdekaan RI tiap tahunnya. | |
Minggu, 29 Juli 2007
Menelusuri Napak Tilas Kemerdekaan RI
Membangkitkan Kembali Pancasila
| | | |
| | |
| Prof. Dr. Djohermansyah Djohan, MA Deputi Sekretaris Wakil Presiden Bidang Politik Tanggal 1 Oktober kemarin kembali kita memperingati hari Kesaktian Pancasila. Di Lubang Buaya, di kantor-kantor pemerintah di pusat maupun di daerah berbagai upacara diselenggarakan. Kepala Negara, petinggi negeri, keluarga pahlawan revolusi, aparat, dan murid-murid sekolah mengikuti upacara itu dengan khidmat. Sekalipun tanpa pidato, tetapi teks dan ikrar Pacasila dibacakan. Harapannya adalah agar Pancasila terus bergema, jangan sampai dirongrong, diselewengkan, dan diabaikan, tetapi diaktualisasikan dalam kehidupan nyata rakyat negeri.
|
DETIK DETIK MENJELANG PROKLAMASI
| |||||||||||
| |||||||||||
Juru Kamera: Damar Galih Wurihasto
Tayang: Selasa, 15 Agustus 2006 Pukul 12.00 WIB
indosiar.com, Jakarta - Perang Dunia Kedua telah mengubah wajah sebagian dunia. Jutaan nyawa manusia melayang, dan tatanan politik berubah.
Tentara sekutu akhirnya menghapuskan hegemoni tiga negara, Jerman, Italia dan Jepang. Kemenangan sekutu di Eropa dan Asia, mengakhiri perang dunia selama 6 tahun.
Bom atom yang menghancurkan kota Nagasaki dan Hiroshima pada tanggal 7 dan 9 Agustus tahun 1945, telah membuat panik tentara Jepang di Asia, termasuk di Indonesia. Dan Indonesia pun merdeka.
Namun kemerdekaan ini diraih tanpa perencanaan matang. Intrik politik mewarnai kelompok muda dan tua. Para pemuda memanfaatkan kepanikan tentara Jepang, untuk segera membentuk pemerintahan sendiri yang merdeka.
Bagi Anhar Gonggong, Sejarawan dan Guru Besar Universitas Indonesia kekalahan Jepang adalah peluang besar, karena saat itu terjadi kekosongan pemerintahan.
Namun rupanya ini tidak berjalan mulus, Jepang tidak rela bila Indonesia merdeka. Para pemuda saat itu menolak tegas Badan Pembentukan Jepang yakni BPUPKI/PPKI yang berencana akan memberikan hadiah kemerdekaan bagi Indonesia.
Hadiah itu menurut mereka hanya janji, dan pemuda semakin berang melihat tokoh tua yakni Soekarno dan Hatta lambat memanfaatkan situasi. Bahkan mereka menuduh Soekarno dan Hatta adalah antek-antek Jepang.
Ini memperuncing perbedaan yang sangat tajam pada saat itu antara tokoh tua Soekarno Hatta dan kalangan muda seperti Syahrir, Chairul Saleh, Adam Malik dan AM Hanafi.
Pada tanggal 15 dan 16 Agustus, situasi semakin genting. Para pemuda mengharapkan keberanian Soekarno dan Hatta untuk segera mengambil keputusan. Ada selentingan juga bahwa Jepang akan membunuh kedua tokoh ini.
Namun Seokarno dan Hatta tetap keukeh dan berpegang teguh pada pendirian bahwa kemerdekaan Indonesia harus melalui BPUPKI/PPKI. Pemuda menjadi berang, lalu menculik Soekarno dan Hatta dan membawanya ke Rengas Dengklok.
Mereka Menculik Soekarno
Asrama Menteng nomor 31. Asrama tempat mangkal pemuda Menteng ini awalnya adalahsebuah hotel yang dibangun tahun 1920 bernama Hotel Somper.
Dari asrama ini, para tokoh muda menculik Soekarno dan Hatta. Untuk ukuran saat itu, hotel ini termasuk mewah dan megah di Jakarta. Pada Zaman itu, hotel ini beralih fungsi menjadi kantor sebuah jawatan propaganda Jepang.
Dan tokoh-tokoh inilah yang sering singgah dan berkumpul di gedung ini. Mereka adalah Khairul Saleh, Adam Malik, Sukarni, AM Hanafi dan lain-lain.
Disini mereka juga menimba pendidikan politik dari sang guru Soekarno, Hatta, Moch Yamin, dan Ahmad Soebardjo. Tujuannya untuk mendukung kepentingan Jepang dalam perang di Asia Timur Raya.
Pendidikan politik yang mereka terima justru menjadi bumerang bagi Jepang. Rasa nasionallisme mereka bangkit, sehingga pada tahun 1943 Jepang 'gerah' dan menghentikan kegiatannya di gedung ini.
Tanggal 16 Agustus 1945, sekitar pukul 4 sore, para pemuda membawa Soekarno dan Hatta keluar dari gedung di Jalan Menteng ini, turut serta Fatmawati dan Guntur. Tujuannya adalah Rengas Dengklok, Karawang, Jawa Barat.
Rumah ini masih asli, namun lokasinya sudah berpindah ke jalan sejarah di Desa Tugu Dua, di Rangas Dengklok. Pemiliknya adalah warga keturunan bernama Djiwa Gie Siong. Bangunannya masih kental dengan sentuhan asli Betawi.
Usianya diperkirakan sudah lebih dari 100 tahun. Ada dua kamar tidur dan satu ruangan tengah. Di kamar ini Soekarno sempat beristirahat. Di ruang tengah ini, Soekarno - Hatta dan tokoh muda membuat naskah proklamasi kemerdekaan. Keaslian rumah ini masih terjaga, hanya kursi meja dan tempat tidur sudah dipindahkan ke musium sejarah di Bandung, Jawa Barat.
Pada tahun 1957, pemilik memindahkan rumah ini dari lokasi aslinya, karena arus sungai Citaroem terus menggerusnya. Rumah ini menjadi saksi bisu, penyusunan naskah proklamasi, Soekarno - Hatta dan kalangan muda bersitegang soal isi naskah proklamasi hingga laru malam.
Proklamasi Tanpa Persiapan
Suasana tegang meliputi para tokoh pada waktu itu, karena mereka harus berpacu dengan waktu. Dua tokoh lain, Khairul Saleh dan Adam Malik Cs, sudah tidak sabar. Bila Proklamasi tidak segera dikumandangkan, mereka akan mengambil langkah sendiri.
16 Agustus dini hari, para tokoh muda membawa Soekarno dan Hatta ke Jakarta karena naskah proklamasi harus segera di kumandangkan.
Rumah Laksamana Maeda. Rumah ini terletak di Jalan boulevard Orange yang sekarang berganti nama menjadi Jalan Imam Bonjol No 1, Menteng, Jakarta Pusat.
Ia menjadi saksi sejarah, saat detik-detik menjelang proklamasi. Pemilik rumah bernama Laksamana Muda Maeda petinggi angkatan laut yang bertugas sebagai kepala penghubung angkatan laut dan darat Jepang.
Bangunan ini bergaya khas tahun 20-an, memiliki 4 ruangan yang masing-masing mempunyai catatan sejarah sendiri. Disinilah isi teks proklamasi akhirnya dirumuskan, setelah para tokoh gagal menyepakati di Rengas Dengklok.
Ada 4 ruangan di lantai satu. Suasana saat itu begitu tegang dan sibuk. Mulai dari perumusan naskah hingga penandatangan naskah proklamasi melewati empat ruangan kamar ini. Sehingga muncul mitos bahwa setiap ruangan kamar mempunyai aura keberuntungan.16 Agustus tengah malam, Soekarno-Hatta tiba di rumah ini dari Rengas Dengklok.
Naskah asli yang masih dalam bentuk corat-coretan ini, oleh Sayuti Melik dan BM Diah diketik ulang.
Sayuti Melik sempat membuang naskah asli yang merupakan konsep awal. Namun insting wartawan seorang BM Diah, tergerak, lalu memungutnya lalu mengamankan dalam sakunya.
Berkat kejelian BM Diah, Kita hingga kini masih bisa menyaksikan naskah bersejarah ini. Naskah dalam bentuk ketikan ini kemudian ditandatangani Soekarno-Hatta diatas sebuah piano.
Saking begitu tergesa-gesanya para tokoh ini tidak sempat menyiapkan bendera negara. Konon pada malam itu juga, mereka membuat bendera dari kain sprei putih dan kain merah milik dari seorang penjual soto yang kebetulan mangkal di sekitar rumah Soekarno.
Situasi begitu kritis, ketika menjelang pembacaan, Soekarno dikabarkan menderita sakit malaria. Hingga pukul 08.00 WIB pagi, Presiden Pertama Republik Indonesia masih belum bisa bangun.
Begitulah situasi saat itu, kacau, tegang dan tidak terencana rapih. Akhirnya proklamasi pun dibacakan dan merah putih berkibar kendati di tiang bambu. Tidak ada satu orang wartawan pun mengabadikan peristiwa bersejarah itu.
Beruntung, Franz Mendur dari harian Asia Raya yang sempat merekam dalam jepretan kamera. Foto-fotonya inilah yang menjadi satu-satunya bukti sejarah. Dan dengan foto-foto ini akhirnya Kami pun bisa merangkumnya dalam bentuk tayangan. (Sup)
Merdeka
Merdeka
Waktu Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan negara ini 60 tahun yang lalu, mungkin memang hanya satu kata ini yang memenuhi benak mereka: merdeka. Sekarang, enam dasawarsa telah lewat, tampuk kepemimpinan telah berkali berganti, apakah kita memang sudah merdeka?Sebagai bangsa yang sudah tidak belia lagi, sungguh kita layak malu dengan berbagai atribut jelek yang tersemat pada diri kita sampai sekarang. Bangsa yang tidak disiplin, korup, terbelakang, tak bisa mengelola kekayaannya yang melimpah ruah dan banyak lagi.
Kita bangsa yang kaya minyak, tapi nyatanya saat harga minyak melambung, justru kita yang kepayahan. Kita bangsa yang mengaku berbudaya adi luhur, tapi nyatanya korupsi, kemalasan, jam karet dan sejenisnya justru menjadi budaya sehari-hari. Kita menjadi begitu bergantung pada belas kasihan bangsa lain, bahkan menjadi robot dan mesin uang bagsa lain padahal kita hidup di bumi - dan laut - yang tak tertandingi potensinya. Apakah kita memang sudah merdeka?
17 Agustus jangan-jangan hanyalah sebuah rutinitas. Tahun lalu ada panjat pinang, tahun ini tidak. Tahun lalu RT 5 menang tarik tambang, tahun ini RT 2 yang menang, dan seterusnya. Ia hanyalah tanggal yang dimeriahkan. Ketika bendera-bendera dikibarkan. Ketika seminggu sebelumnya gapura kampung dicat ulang dan seminggu sesudahnya diadakan pangung hiburan di halaman kelurahan. Jangan-jangan itu saja.
17 Agustus hanyalah perayaan yang superfisial. Anestesi sejenak dari berbagai rasa sakit bangsa yang kronis. Sialnya, anestesi ini ternyata memerlukan dana (dan tentu saja waktu, tenaga dan pikiran) yang tidak sedikit, yang jelas akan lebih bermanfaat bila diarahkan ke area lain. Anestesi yang satu ini, bahkan juga dibumbui dengan pencurian listrik demi memenuhi kehingar-bingarannya. Apakah kita memang sudah merdeka?
Meskipin demikian, tentu saja kita tidak boleh berhenti hanya sampai termenung dan merenung. Berhenti sembari mengutuki nasib jelek bangsa ini (dibilang nasib pun sebenarnya tidak pas karena kita semua juga yang salah). Kita harus memulai memperbaikinya. Dari diri sendiri, dari yang sederhana sampai akhirnya menyeluruh ke semua sendi kehidupan.
Pelan-pelan kita pasti bisa berbenah. Dari stop buang sampah sembarangan, lebih sering tepat waktu, berhenti menilep uang yang bukan milik kita (apalagi milik rakyat), sampai mengerem gontok-gontokan berebut kekuasaan, entah pilkades, pilkada atau pemilu. Pasti bisa kita lakukan kalau kita mencontoh semangat ikhlas para pejuang kita dahulu. Yang hanya satu kata saja yang mendasari pengorbanannya: merdeka.
Lalu sekarang, apakah kita memang sudah merdeka? Jangan-jangan seperti perayaannya, kita baru merdeka di permukaan saja.
Sejarah Gedung
Sejarah Gedung Didirikan sekitar tahun 1920 dengan arsitektur Eropa pada waktu itu, dengan luas tanah 3.914 m2 dan luas bangunan1.138,10 m2. Pada 1931, pemiliknya atas nama P.T. Asuransi Jiwasraya. Ketika pecah Perang Pasifik, gedung ini dipakai British Council General, Sampai Jepang menduduki Indonesia. Pada masa Pendudukan Jepang, gedung ini menjadi tempat kediaman Laksamana Muda Tadashi Maeda, Kepala Kantor Penghubung antara Angkatan Laut dan Angkatan Darat Jepang. Setelah Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, gedung ini tetap menjadi tempat tinggal Laksamana Muda Tadashi Maeda, sampai Sekutu mendarat di Indonesia, September 1945. Setelah kekalahan Jepang gedung ini menjadi Markas Tentara Inggris. Pemindahan status pemilikan gedung ini, terjadi dalam aksi nasionalisasi terhadap milik bangsa asing di Indonesia. Gedung ini diserahkan kepada Departemen Keuangan, dan pengelolaannya oleh Perusahaan Asuransi Jiwasraya. Pada 1961, gedung ini dikontrak oleh Kedutaan Inggris sampai dengan 1981. Selanjutnya gedung ini diterima oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 28 Kebudayaan 28 Desember 1981. Tahun 1982, gedung ini sempat digunakan oleh Perpustakaan Nasional sebagai perkantoran. Gedung ini menjadi sangat penting artinya bagi bangsa Indonesia, karena pada 16 - 17 Agustus 1945 terjadi peristiwa sejarah, yaitu perumusan naskah proklamasi bangsa Indonesia. Pada 1984, Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Nugroho Notosusanto, menginstruksikan kepada Direktorat Permuseuman agar merealisasi gedung bersejarah ini menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0476/0/1992 tanggal 24 November 1992, gedung yang terletak di Jalan Imam Bonjol No. 1 ditetapkan sebagai Museum Perumusan Naskah Proklamasi (Sebagai Unit Pelaksana Teknis) di bidang kebudayaan, berada dibawah Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. |
Semangat Proklamasi
"Semangat proklamasi," ujar Soekarno di ulang tahun kelima kemerdekaan Indonesia, "adalah semangat rela berjoang, berjoang mati-matian dengan penuh idealisme dan dengan mengesampingkan segala kepentingan diri sendiri. Semangat proklamasi adalah semangat persatuan, persatuan yang bulat-mutlak dengan tiada mengecualikan sesuatu golongan dan lapisan. Semangat proklamasi adalah semangat membentuk dan membangun negara.... Dan manakala sekarang tampak tanda-tanda kelunturan dan degenerasi, kikislah bersih semua kuman kelunturan dan degenerasi itu, hidupkanlah kembali semangat proklamasi!"
Masih adakah idealisme dan semangat berjoang di antara kita? Masih. Mahasiswa dan masyarakat madani turun ke jalan, memekikkan reformasi, membebaskan negeri dari cengkeraman tirani. Selepas kejatuhan Soeharto, pelbagai langkah demokratisasi prosedural telah ditempuh dengan transformasi yang nyata: amandemen konstitusi, pemerintahan terpilih, pemilu yang relatif fair, kebebasan berekspresi, keluasan akses informasi, desentralisasi dan otonomisasi, kehadiran institusi-institusi kenegaraan baru serta pemilihan presiden dan pilkada secara langsung.
Di luar arena politik, kekuatan-kekuatan swadaya masyarakat menceburkan diri di zona-zona bencana dengan ketulusan patriotis yang mengharukan. Terkenang juga para pendekar kebudayaan yang secara berdikari mengirimkan talenta-talenta terbaik bangsa ke ajang kompetisi internasional --semacam olimpiade fisika atau festival kesenian-- dan pulang dengan medali tertinggi.
Masih adakah semangat persatuan di antara kita? Masih. Bahasa Indonesia makin penting sebagai lingua franca, perkawinan antaretnis pun merekatkan keindonesiaan. Elite settlement untuk mentransformasikan elite berseteru menjadi elite bersatu dalam prinsip-prinsip dasar kenegaraan mengalami kemajuan. Fanatisisme ideologis, yang mengubur eksperimen demokrasi parlementer, relatif makin cair. Piagam Jakarta tak lagi menjadi obsesi arus utama politik muslim. Mayoritas elite mendukung amandemen konstitusi. Tentara rela keluar dari arena politik. Desentralisasi dan distribusi kekuasaan diterima sebagai keniscayaan. Solidaritas nasional juga terasa di kala bencana mendera.
Hanya saja, solidaritas emosional tersebut mudah roboh oleh kelemahan solidaritas fungsional, karena tak terpenuhinya cita-cita kebajikan dan kesejahteraan bersama. Solidaritas dan demokrasi, menurut Alexis de Tocqeville, memiliki makna di luar politik dan budaya: yakni kesederajatan sosial dan ekonomi. Kesetaraan sosial-ekonomi memunculkan hasrat membentuk asosiasi-asosiasi yang terbuka, tanpa melihat dan dibedakan menurut silsilah. Pada gilirannya, perkumpulan ini melindungi kesetaraan dengan mencegah kelompok lain menjadi dominan. Dengan demikian, perkumpulan ini memiliki dua fungsi: mereka berasal dari dan menjaga solidaritas dan demokrasi. Demokrasi politik tanpa demokrasi ekonomi menyimpan potensi erupsi, laksana bara dalam sekam yang dalam sekejap bisa menghanguskan ikatan-ikatan persatuan.
Masih adakah semangat membangun negara di antara kita? Masih. Alim ulama ingatkan kebangkrutan moral, aparat pembasmi korupsi mulai beraksi, politisi pecundang perankan oposisi, tentara lepaskan aktivitas niaga, pendidik rela berupah rendah, lembaga-lembaga pemantau bersitumbuh, media massa giat beberkan keborokan, pengamat aktif mengkritisi.
Hanya saja, kita mengalami krisis keteladanan dan kepemimpinan. Seperti sindir syair Arab, "Berapa kali kaukatakan, negara sedang sakit; sedang engkau adalah penyakit itu. Tunjuk hidung adalah kebiasaanmu; sedang engkau tak tampak menjaga kehormatannya." Terlalu banyak yang mengeluh dan terlalu sedikit yang memberi contoh.
Mohammad Hatta pernah berkata: "Kualitas pemimpin sepadan dengan caranya mendapat makan." Ketika para pemimpin negeri berpesta menikmati gaji ke-13, sibuk "jaga image" atau memenangkan proyek, sedang rakyat banjir air mata dilanda bencana, menjadi jelas terukur bagaimana kualitas para pemimpin kita.
Sementara para pemimpin berpesta, arus neokolonialisme yang membonceng globalisasi semakin luas cakupannya, instan kecepatannya, dan dalam penetrasinya. Secara perlahan kantong-kantong usaha rakyat tergusur, sumber daya alam terkuras, dan aktiva ekonomi mengalir ke pusat-pusat metropolis. Ledekan Profesor Veith dari masa lampau makin menikam di ulu hati: "Di pantainya tanah Jawa rakyat berdesak-desakan; datang selalu tuan-tuannya setiap masa; mereka beruntun-untun sebagai runtunan awan; tapi anak-anak negeri sendiri tak pernah kuasa."
Semangat proklamasi harus dikobarkan. Tekad harus dipancangkan. Seperti kredo Rene de Clerq yang sering disitir Bung Karno: "Hanya satu negeri yang menjadi negeriku. Ia tumbuh dari perbuatan, dan perbuatan itu adalah usahaku."
PROKLAMASI
| |||||||||||||||||||||||||||||||